Berdasarkan penilaian Kementerian Dalam Negeri, Indeks Kerukunan Umat Beragama di Ciamis berada dalam kategori baik.
Bahkan, unsur keberagaman mencatat skor tertinggi, yakni 7,24, melampaui indikator lainnya.
“Nilai keberagaman ini yang harus terus dirawat. Salah satunya melalui ruang-ruang kebudayaan seperti hari ini,” tuturnya.
Selain itu, Ciamis juga menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih peringkat kedua nasional dalam ajang Harmoni Award tingkat kabupaten se-Indonesia.
99 Plus 1 Ciamis
Sebuah capaian yang, menurut Sumadi, lahir dari proses panjang sejak 2007 kerja senyap yang dilakukan masyarakat, tokoh agama, dan berbagai elemen lintas iman.
“Ini kerja panjang. Data hanya merekam apa yang sudah lama hidup di masyarakat Ciamis,” katanya.
Dalam merawat harmoni, Ciamis juga memegang satu prinsip sederhana namun kuat: 99 plus 1. Bukan tentang jumlah, melainkan makna. Tidak ada mayoritas dan minoritas. Yang ada hanyalah “kita”.
“Semua setara. Bersama,” tegas Sumadi.
Di tengah dunia yang kerap gaduh oleh perbedaan, Ciamis memilih berbicara dengan cara lain: melalui nada, kebersamaan, dan kebudayaan.
Dari pendopo sederhana di tanah Priangan Timur, pesan itu mengalun pelan namun jelas bahwa harmoni bukan sekadar konsep, melainkan praktik yang terus dijaga.
Lewat denting angklung dan irama yang menyatu, Ciamis juga kembali mengingatkan, persaudaraan adalah warisan budaya yang paling berharga.














