Dengan lebih dari 900 juta pengguna aktif secara global, Telegram sudah jadi pilihan utama banyak komunitas, mulai dari grup belajar, komunitas hobi, sampai bisnis.
Di sini, kamu bisa bikin grup sampai 200 ribu orang, kirim file besar, pakai bot otomatis, dan simpan semua data di cloud.
Fitur secret chat juga tersedia bagi yang ingin privasi ekstra, meskipun tidak semua chat terenkripsi secara default.
3. Viber – Jagoan Panggilan Internasional
Viber sempat populer di Indonesia beberapa tahun lalu dan kini mulai naik lagi karena fiturnya yang lengkap, terutama untuk panggilan suara dan video.
Pengguna juga bisa menelepon ke nomor luar negeri (layaknya Skype) dengan tarif murah melalui fitur Viber Out.
Yang penting, semua percakapan juga sudah dienkripsi end-to-end.
4. Line – Sosmed dan Chat dalam Satu Genggaman
Di kalangan anak muda Asia, Line sempat jadi raja. Chat, timeline, stiker lucu, hingga game mini dalam satu aplikasi.
Meski popularitasnya di Indonesia kini menurun, beberapa komunitas masih aktif menggunakan Line karena tampilannya yang ceria dan fitur sosialnya yang unik.
Mengapa Orang Mulai Meninggalkan WhatsApp?
Ada banyak alasan. Pertama, soal privasi. Setelah WhatsApp mewajibkan berbagi data ke Facebook untuk keperluan iklan dan layanan, sebagian pengguna mulai risih.
Belum lagi kasus peretasan yang pernah menimpa tokoh-tokoh publik lewat WhatsApp.
Kedua, keterbatasan fitur. Walaupun kini sudah mendukung story, stiker, hingga kirim file besar, WhatsApp tetap dianggap ‘terlalu basic’ oleh sebagian kalangan tech-savvy yang butuh fleksibilitas lebih.
Dan terakhir, faktor komunitas. Banyak komunitas kreatif, startup, hingga lembaga kini mulai pindah ke Telegram atau Signal karena mendukung kebutuhan kerja dan diskusi yang lebih kompleks.
Lalu, Haruskah Kita Pindah?
Jawabannya tergantung kebutuhan. Kalau kamu ingin sekadar chat dengan keluarga dan teman, WhatsApp masih cukup.
Tapi kalau mulai butuh privasi lebih, fitur unik, atau ingin dukung karya anak bangsa, tidak ada salahnya mencoba aplikasi lain.
Yang jelas, era “satu aplikasi untuk semua orang” mulai bergeser.
Kini, orang bisa punya dua, tiga, bahkan empat aplikasi chat sekaligus di ponsel mereka sesuai fungsi dan komunitas.
Indonesia tak kekurangan talenta di bidang teknologi.
Aplikasi-aplikasi seperti liteBIG, ChatAja, Palapa, hingga Catfiz membuktikan bahwa karya anak negeri punya potensi menyaingi platform global.
Dan dengan semakin kuatnya kesadaran soal privasi digital, bukan tak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, nama-nama itu akan jadi pemain utama.
Yang penting, sebagai pengguna, kita tahu pilihan kita. Dan bisa memilih dengan sadar, bukan karena ikut-ikutan.
Jika Anda tertarik dengan review masing-masing aplikasi secara mendalam, atau ingin panduan migrasi data dari WhatsApp ke aplikasi lain, saya bisa bantu buatkan.














