Sayangnya, banyak anak muda yang lebih memilih sambal geprek atau saus Korea dibanding sambal tradisional seperti ini.
9. Mie Lethek – Bantul, Yogyakarta
Mie ini dinamai “lethek” alias kusam karena warnanya tidak kinclong seperti mie modern.
Tanpa bahan pengawet, tanpa pemutih, dan dibuat secara tradisional.
Rasanya sederhana tapi menghangatkan. Tapi ya itu tadi, kurang “Instagramable.”
10. Leme-leme – Sulawesi Tenggara
Kue dari ketan hitam yang dibungkus daun dan dikukus. Teksturnya legit, rasanya manis.
Namun kini lebih sering muncul di festival budaya daripada di meja makan anak muda.
Kenapa Kita Harus Peduli?
Karena makanan bukan cuma soal rasa ia adalah warisan.
Oleh karena itu, saat satu makanan punah, satu potong sejarah ikut menghilang.
Kita kehilangan bukan hanya cita rasa, tapi juga cerita di baliknya: tentang nenek yang dulu mengajarkan cara membungkus.
Kemudian, tentang musim panen singkong yang jadi perayaan, tentang kebersamaan di dapur.
Kalau generasi kita tak mengenalnya, siapa lagi yang akan menyelamatkannya?
Ayo Lestarikan Makanan Tradisional Indonesia
Pertama, kita bisa mencoba resepnya di rumah, meski cuma sesekali.
Kemudian, mengajak teman nyobain makanan khas yang belum pernah mereka makan.
Jangan lupa juga ceritakan pengalamanmu makan tiwul atau papeda di media sosial.
Lalu, kalau kamu punya nenek atau ibu yang bisa masak makanan ini, duduklah di samping mereka. Dengarkan, tiru, dan abadikan.
Dengan demikian, makanan tradisional adalah identitas kita. Jangan biarkan tiwul, papeda, atau kapurung hanya tinggal nama dalam buku sejarah.
Oleh karena itu, kita masih bisa menyelamatkan mereka, satu suapan demi satu cerita.














